Lamunan cuci baju…

Yap yap yap ini dia ikhtisar hasil lamunan sewaktu saya sedang mencuci baju, sambil mengucek kerah, lumayan kan jika bisa mendapatkan kesimpulan. Seusai membaca Genetics Gods dari Bapak Avise jadinya melamun dan berpusing-pusing ria. Bener-bener jadi kagum dengan genetika manusia. Blue print yang tersimpan dalam sel nutfah untuk kemudian berlanjut dilimpahkan ke generasi selanjutnya. Isn`t that wonderful? Komponen karbon yang melampaui perjalanan semenjak bintang generasi pertama hancur dalam ledakan supernova untuk memperkaya materi antar bintang. Disusul dengan oksigen dan nitrogen. Bersiklus terus dalam materi antar bintang, mengikuti hukum fisika dan kesunyian semesta sambil terus sibuk berproses. Belasan miliar tahun kemudian dengan kemurahan hati Semesta membentuk rangkaian asam amino. Dikodekan dalam baik dalam ikatan dobel heliks yang nantinya akan membentuk sebuah individu baru yang terhubung satu sama lain. Baru karena setiap individu tidak memiliki urutan genom yang sama persis namun cukup seragam untuk mengatakan bahwa manusia sebenarnya tidak sedemikian bedanya dengan manusia yang lain untuk membeda-bedakan manusia dalam ras.

Secara objektif buku Genetic Gods benar-benar rasional dan berusaha menunjukkan bahwa campur tangan tuhan-tuhan Genetis adalah lebih besar dibandingkan dengan Tuhan supernatural (meminjam istilah si penulis, tapi saya lebih suka menyebutnya Tuhan) dalam menentukan nasib manusia. Takdir-takdir genetis nampaknya telah paten ada dalam gen-gen manusia yang tentu akan menentukan apakah si individu meninggal dalam usia muda karena kesalahan genetik yang diekspresikan dalam kesalahan metabolisme atau berumur panjang. Apakah si manusia mempunyai kecenderungan untuk menjadi homoseksual atau melakukan kejahatan. Saya jadi melihat manusia sebagai produk mekanistis yang disetir oleh miliaran gen-gen yang bersemayam dalam tubuhnya. Dan nasibnya telah ditentukan semenjak pertemuan sel-sel gamet dalam proses pembuahan. Hemmmm, indah nampaknya tapi tetap saja ada yang mengganjal karena ada pertanyaan yang belum terjawab oleh tuhan-tuhan gen. Ide manusia mekanistis semata membuat saya merasa ga nyaman. Setelah menyadari bahwa mungkin saja saya adalah inang yang dibajak demi keberlangsungan kekekalan si gen ooww tidak!. Apakah kita memang semekanistis itu?

Apakah manusia semata-mata ada hanya untuk melangsungkan dan melestarikan keberadaan materi genetic yang lebih dulu ada dan berhasil lolos dari proses seleksi alam sebelumnya? Apakah keberadaan manusia adalah semata-mata hasil dari proses evolusi tanpa ada campur tangan suatu desainer yang saya sebut the Divine Creator?. Si penulis menyajikan jawaban bahwa manusia ada karena seleksi alam mengijinkan spesies manusia untuk bertahan. Gen-gen yang ada dalam tubuh kita telah melewati banyak masa, banyak inang, tambal dan sulam, what for?

Salah satu misteri yang membuat saya belum menerima ide bahwa keberadaan manusia semata-mata hanya untuk melestarikan kekekalan gen adalah tentang kesadaran manusia. Jikalau keberadaan manusia hanyalah semata-mata untuk melestarikan limpahan gen ke generasi selanjutnya maka apakah fungsi kesadaran dalam pelestarian gen?. Mengapa manusia memiliki akal budi? Yang tidak membuat manusia seutuhnya bersikap seperti robot semata-mata menuruti cetak birunya. Mengapa manusia dibuat sadar akan kesadaran itu? Mengapa harus timbul pertanyaan dalam diri kita darimana kita berasal? Mau apa kita di sini? Apa pentingnya pertanyaan tadi untuk kelestarian gen?
Kenapa oh kenapa….

Nampaknya sains masih harus menempuh jalan panjang nan berliku untuk dapat menjawab pertanyaan ini. Dan tanggung jawab itu ada di pundak biologi genetika dan juga astronomi SETI, dan tentunya bidang sains yang lain seperti geologi, biokimia dkk karena semuanya berhubungan.

Pada bab-bab akhir si penulis menuliskan bahwa sedang diteliti hubungan antara gen dengan fungsi otak. Mungkin setelah seluruh gen-gen ditentukan fungsinya dalam tubuh manusia barulah kita bisa tau apakah tuhan-tuhan genetic ini memang berkuasa mutlak atas takdir manusia. Ho hohohoho, marilah kita nantikan jawabannya.
Akan sangat menarik jika ternyata nantinya ditemukan gen untuk akal budi, sehingga mungkin tanggung jawab manusia akan tingkah lakunya dapat dialihkan pada gen-gen yang beraktivitas menentukan moralitas manusia dan telah terprogram semenjak manusia lahir tanpa bisa dielakkan oleh manusia. Ini pekerjaan yang menantang namun sepadan jika manusia menemukan jawaban lengkapnya, dapat diketahui darimana manusia berasal dan konsekuensinya bagi kehidupan manusia

Proses yang melibatkan kesadaran manusia, kekuatan untuk memilih antara dua pilihan adalah proses yang luar biasa rumit (untuk dipahami manusia tentunya). Mungkin gen-gen itu punya peran namun tidak secara mutlak mempengaruhi keputusan manusia. Saya akan kecewa jika ternyata gen-gen itu mutlak berkuasa atas diri saya. Tapi lagi-lagi siapa saya? Jangan-jangan citra ego saya pun berasal dari ekspresi gen-gen dalam tubuh saya?. Mungkin interaksi dengan lingkunganlah yang lebih dominan dalam mempengaruhi manusia dalam mengambil keputusan yang secara penuh disadarinya. Atau kombinasi dari keduanya yang bermain dalam mempengaruhi kita.

Jika ditanya apakah manusia punya kekuatan memilih? Saya jawab iya. Manusia punya kekuatan untuk memilih dalam batas-batas tertentu di bimbing oleh nilai-nilai moral yang ada dalam hidup manusia. Kita tidak semata-mata pasrah pada kekuasaan tuhan-tuhan genetik kita seolah-olah kita adalah robot mekanis. Hubungan antara kesadaran dengan cetak biru manusia harus diteliti lebih lanjut untuk menjawab banyak pertanyaan di atas. Fakta yang dapat diperoleh adalah bahwa kesadaran manusia itu memang ada dan membuat kita punya kekuatan untuk memilih jalan untuk hidup kita.

~ by cyveir2219 on May 14, 2009.

10 Responses to “Lamunan cuci baju…”

  1. Ada pertanyaan yang mendasar menurut gw, sebagai orang yang bisa dibilang awam, tentang ilmu2x pasti dan ilmu alam: Mengapa ilmu2x pasti dari matematika dan fisika seperti yang kita ketahui sekarang bertingkah laku demikian?? Maksud gw, kenapa kalau 2 massa yang berdekatan akan tarik menarik atau kenapa 2 muatan yang sama tolak menolak dan seterusnya dan seterusnya. Tanya kenapa??hehehe


    pertanyaan berat tuh, ampe sekarang para fisikawan masih mencari kenapa dan kenapanya. walaupun bisa menjelaskan bagaimananya, tapi mengapanya masih susah.

  2. Oi Nil, bajunya hanyut tuh …

    (dengan asumsi Ainil nyuci di sungai :D )

  3. kenapa ada “kesadaran”? dari sudut pandang evolusi kesadaran adalah produk dari seleksi alam. manusia dipaksa untuk bisa bertahan dan mengungguli hominid lain dengan mengembangkan kesadaran.

    berarti tuhan-tuhan genetis ini secara tidak langsung menghapus freewill manusia. begitu bukan, nul?

    *habis baca is nature enough karangan john f. haught*

  4. wkwkwk dipanggilnya inul juga sama temennya hehehe..:D

    @ainil:hehehe..ndak usah dicari jawaban kenapanya jg ndak papa kok..khan yang bagaimana juga masih banyak tuh yang jadi pe er manusia..hehehe..

    tofanfadriansyah.wordpress.com

    -iklan hehehe-

  5. @anton,
    wow, ide yang menarik. yap, dari pandangan evolusi adanya kesadaran manusia bisa dipandang adalah hasil seleksi alam yang membuat manusia unggul dibandingkan dengan spesies lainnya dan hal ini sudah terbukti. kalo dah demikian bisa dicurigai ada kaitan gen-gen di dalamnya.
    nah sekarang free willnya apa definisinya? sebatas apakah keakuan si gen diekspresikan dalam keakuan si inang?

    masalahnya agak susah mengisolasi kaitan gen dengan lingkungan. apakah tiap-tiap produk kecerdasan memiliki untaian genom yang memproduksi agen biokimianya? misalkan ada gen untuk kebijaksanaan, atau gen sifat rakus, tamak, dan iri. sampe sekarang kan masih dicari peta gen dan kaitannya dengan kecerdasan manusia. Mungkin gen-gen manusia membuat berkembangnya kecerdasan manusia menjadi mungkin.

    seberapa bebaskah kita? seberapa tidak merdekanya kita karena dibajak oleh si gen untuk melestarikan keabadiannya.
    contoh kasus, jikalau pelimpahan gen ke generasi selanjutnya adalah salah satu tujuan si gen untuk abadi, maka kecenderungan manusia adalah berpoligami, menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya karena ini tentu menguntungkan gen. tapi pada prakteknya kultur manusia lebih cenderung memandang positif pada monogami. padahal kultur adalah produk hasil kecerdasan dan kearifan manusia yang dihasilkan oleh otak. Otak tentunya adalah hasil bentukan gen-gen juga. Jadi?

    seberapa lugunya kita, jikalau suatu ketika ditemukan secara pasti lokasi gen yang mengatur sifat jahat manusia. lalu apakah kita dengan polosnya berkata we are mean to be like that, its on the gene. can we choose? mungkin jawabannya ya, pada batas2 tertentu. pasti ada keterlibatan dengan gen-gen lainnya dan tentu saja sistem sosial masyarakat (yang tentunya dipengaruhi kerja gen).

    mungkin ada gen manusia yang adaptif terhadap kemampuan memilih, ada zat-zat kimiawi tertentu yang menentukan tingkat kemampuan memilih seseorang. mari kita tunggu saja penelitian terbaru tentang kesadaran, kecerdasan manusia dan tempatnya dalam kerangka evolusi.

    wah jadi ngelantur kemana-mana nih.
    btw ada konsep yang agak mengganggu nih, tentang seleksi alam dan juga masalah ungguk-mengungguli. nampaknya konsep ini juga berevolusi. kalo definisinya sebatas menyeleksi organisme yang mampu bertahan dan unggul terhadap organisme lain maka nampaknya itu dah dicapai oleh spesies kita. Dalam waktu 200 ribu tahun, manusia telah dipandang unggul dibandingkan dengan organisme lain, dipandang dari segi jumlah. Ilmu kesehatan, budi daya pakan dan tempat tinggal telah membuat manusia bertahan dan berkembang jumlahnya. Tapi jika manusia ga mulai memikirkan konservasi terhadap spesies lainnya maka spesies kita juga akan punah karena ketidak seimbangan alam mungkin akan diseimbangkan dengan mengurangi jumlah ataupun kemampuan eksploitasi spesies manusia. Jadi untuk tantangan dan zaman berbeda mungkin konsep seleksi juga berevolusi. we must start to think that we are all connected.

    Jadi untuk keberlangsungan gen-gen itu nanti mestinya dia juga adaptif dan mencari solusi terhadap hal ini. Jadi seleksi alam nampaknya bekerja di tingkat alam semesta juga ga cuman masing-masing spesies.

    @eddy,
    hihihiihi, emang ente masih nyuci di kali hihihihih.

    @tofan,
    huuuuuuuu, buuuuuu, tetep aja jangan rekomendasikan orang laen buat panggil inul wkwkwkwkkwkwkw.

  6. Ada quote dari blognya Anton:

    Sebagai tambahan mengenai kebolongan sains bisa kita lihat pada teori evolusi, teori yang mampu menjelaskan bagaimana spesies yang ada di Bumi bisa terbentuk. Hingga sekarang, jika kita mau ketat pada konstruksi ilmu pengetahuan, kita tidak pernah tahu apa sebenarnya itu spesies. Apakah spesies itu hanya konstruksi artifisial manusia saja?

    Nambah pertanyaannya, kurasa, untuk “konsep yang agak mengganggu” mu itu.

    thanks ed for the comment ^^, yeah the problem is the concept of evolution, the selection of nature is already be the basic concept in bioevolutionary. Everything will be viewed from this point of view. One quote says that this concept is just like gravity in physics.
    Apa semua harus diterjemahkan dalam konsep ini? yah walo ga semua konsepnya salah sih. tentang adaptasi dan seleksi emang ada dan terbukti dalam skala tertentu. tapi kalo semuanya jadi “dicocokk2an”?
    mestinya mereka juga bisa buat prediksi juga tentang perkembangan manusia ke depan. ada ga simulasi mutasi gen dan evolusinya yang bisa merekonstruksikan ulang permulaan manusia? kayak simulasi evolusi galaksi saja :) ). sebaiknya kita tetap berpikir kritis dan mendorong kemajuan sains. mari kita tunggu bersama-sama dengan mata, pikiran terbuka. what a wonderful journey then :D

  7. Kalo yang gw tau, ilmuwan (ato ilmuan) mencari hukum2x untuk menjelaskan keteraturan tingkah laku alam. Bahkan (dari yang gw tau jg) einstein melihat kedepan ada suatu teori tunggal yang menjelaskan segalanya. CMIIW. Lalu jika semuanya bergantung kepada suatu kebetulan dan peluang atas semua kejadian, apakah yang akan dicari dari semua ini?

    btw gw masih gak terlalu ngerti tentang teori evolusi. Kok tampaknya teori ini tidak didukung sama bukti2x atau percobaan2x tapi kok bisa menjadi sebuah teori?? Bukankah kalo ndak ada buktinya akan disebut sebagai postulat yak? mohon pencerahannya kakak kalo ternyata emang ada bukti2x..pake bahasa orang awam saja yak..hehe

    haturnuhun

  8. hohoho.. bagi awak sih segala bentuk kejumudan entah itu di agama dan di sains adalah sebuah kebod*han. Mungkin ada yang berniat melakukan pembod*han itu awak ndak tau.

    Pastinya alam ini berubah. Delta. Delta t atau delta s. Jadi kalau ada yang bilang teori ini sudah final dan menjelaskan segalanya, ya, cem mana ya…

    Balik ke evolusi. Mungkin ga kalau kesadaran itu adalah kesalahan gen saat melakukan evolusi. Alih-alih menciptakan inang yang “bagus”, malah menciptakan inang yang “pinter”.

    Keknya si Ainul punya usulan yang sangat orisinil untuk menguji hal ini. Ya khan, Nul? Hahaha..

  9. @tofan: Sebuah teori tidak harus memiliki bukti dan hasil empiris lho. Gedankenexperiment cukup untuk membuat teori. Selama dia didukung oleh kebenaran-kebenaran ilmiah lain, ya oke. Kalau postulat itu gak/belum ada dukungan ilmiahnya, tapi masuk akal. CMIIW.

    Soal evolusi (ga nyambung soal genetika itu, aku nambahin bahan pemikiran saja) ada konsep menarik dari … Dr Hamid Fahmi Zarkasy, dosen UIN Syarif Hidayatullah dan anggota INSISTS. Judul bukunya, “Adam Bukan Manusia Pertama”, terbitan Republika.

    Aku dah lupa kesimpulan tulisannya tentang evolusi manusia, tapi yang jelas beliau berpandangan Islam sendiri menolak teori “penciptaan langsung”. Manusia tidak langsung dari tanah, kun fayakun, thus langsung jadi orang seperti kita sekarang. Ada tahapan-tahapan lebih dulu sebelum jadi manusia. Dalam pikiranku, barangkali kata-kata Ilahiyah “kun fayakun” itu menyebabkan sebuah proses jadi berlangsung, jadi bukan seperti sihir. Setelah baca buku ini, pemikiran ala Harun Yahya ku berkurang :p

    FYI, pak Hamid itu salah satu penolak Islam Liberal, dan beliau anggota INSISTS yang concern dengan masalah perusakan akidah Islam. Aku sendiri percaya beliau memiliki aqidah dan pemahaman fiqh yang bagus. IMO, gak perlu curiga (kalau ada yang curiga) bahwa beliau ini membawa “pemikiran merusak”.

  10. @anton, yaps, kalo mau coba bunuh diri geura tapi dilakukan sebelum ada perkawinan, dengan demikian probabilitas untuk menurunkan hereditas genetika ke generasi selanjutnya terputus. hahahh, itu salah satu cara menguji yang aneh. Dengan demikian kita bisa lihat bagaimana reaksi gen yang membajak kita itu. Nah lo, sekarang sapa yang menguasai siapa. wkwkwkwk, sesat ini teman2 jangan dicontoh. bisa diambil contoh lainnya yang intinya sebenarnya dalam batas2 tertentu gen tidak mutlak menguasai manusia.
    @eddy, thats great point, menurutku jika memang penciptaan manusia memang bertahap dan match dengan evolusi alam semesta maka justru ini menjadi cara yang elegan untuk membuat manusia belajar. Bayangkan jika semua terjadi dalam sekejap mata maka akan susah bagi manusia untuk belajar tentang dirinya sendiri dan letaknya di alam semesta ini. Aku percaya satu konsep bahwa seluruh yang ada di alam semesta ini terhubung dalam satu grand design yang indah.

    Thanks for sharing guys!

Leave a Reply